Minggu, 27 Mei 2018

Andrea Pirlo: I Think Therefore I Play

Sejak kecil saya lebih menyukai liga Italia dari pada Inggris. Begitu pula dengan tim favorite yaitu AC Milan. Mungkin untuk sekedar ada kesebelasan yang bisa diandalkan di kala bertarung di game Winning Eleven PS1 bersama kawan-kawan. Karena jika hanya menasbihkan diri sebagai Bobotoh, maka takkan ada hal yang beda, karena kawan saya pun pastilah sebagai penggemar Persib juga, berikut dulu Persib belum tersedia di salah satu kesebelasan yang bisa dimainkan di game Winning Eleven.

Ingatan di masa kecil menyebutkan bahwa AC Milan adalah raksasa Eropa, dengan Dida di bawah mistar gawang, lalu ada Maldini, Nesta, Cafu, Jaap Stam di barisan belakang. Pun dengan lini tengahnya yang begitu megah, ada Kaka yang bermain sangat baik menggantikan peran Rui Costa, juga Seedorf serta Rino Gattuso. Lalu, Shevchenko dan Pipo Inzaghi sebagai mesin gol. Ada nama yang tak mungkin untuk tidak disebut diantara nama-nama megah tersebut, ialah Andrea Pirlo, nama yang sering mengisi kesebelasan Master League di Winning Eleven PS1 yang saya mainkan.
Kebetulan, di hari tulisan ini diposting, saya baru selesai membaca buku Andrea Pirlo: I Think Therefore I Play. Tidak hanya hal-hal baru yang saya dapatkan ketika membaca buku tersebut, juga ada kenangan masa kecil yang teringat.

Buku tersebut terdiri dari 20 bab. Baginya, angka 21 sangat sakral. Angka tersebut adalah tanggal kelahiran Ayahnya, tanggal pertama kali ia debut di Serie A, juga tanggal ia melangsungkan pernikahannya. Sehingga, ia hanya menulis hingga bab 20 dengan harapan bab 21 akan kembali ditulis dengan cerita indah lainnya.

Di buku tersebut diawali oleh pengantar yang ditulis Cesare Prandelli, pelatih Timnas Italia di kala itu. Menurut Prandelli, ia telah melihat bakat besar yang dimiliki Pirlo sejak Pirlo bermain di tim junior Brescia. Ia menuliskan bahwa pada saat itu ia mendapat kabar dari salah satu asistennya bahwa ada pemain yang begitu bagus. Sayangnya pemain itu bermain di Brescia, kesebelasan yang akan bertandingan melawan kesebelasan Prandelli. Prandelli memang benar-benar kagum ketika pertama kali melihat permainan Pirlo yang padahal bermain tidak dengan pemain seusianya. "Bakat Baru" begitulah ia menuliskannya.

Buku itu ditulis ketika Pirlo berseragam Juventus. Di bagian awal, ia menuliskan cerita tentang perpindahan dari Milan ke Juve. Tersirat ia sebetulnya ingin bertahan di AC Milan, ketika bernegoisasi untuk memperpanjang kontrak di Milan, Pirlo tak pernah sedikitpun membahas perihal materi, yang ia inginkan hanyalah kontrak yang tak sekedar satu musim, seperti yang AC Milan tawarkan. AC Milan kukuh dalam penawarannya, sehingga Pirlo memutuskan untuk menerima pinangan Juventus dengan kontrak tiga tahun. Pirlo bisa saja kembali ke Inter, andai Inter Milan bisa bergerak cepat dan serius dalam bernegosiasi.

Ia juga bercerita bahwa ia hampir akan bermain di Madrid dan Barcelona. Kesebelasan yang diimpikan ketika muda. Bermain di dua kesebelasan hebat tersebut bukan hanya impiannya, teman-teman kecilnya pun berharap demikian. Spanyol adalah harapan bagi sebagian pesepakbola muda Italia. Dan Pirlo hampir saja merealisasikan harapan di kala kecilnya. Madrid ketika ditangani Fabio Capello sangat menginginkan jasa Pirlo. Jika Galliani tidak memberikan draft kontrak yang pada kolom gajinya sengaja dikosongkan untuk diisi sendiri oleh Pirlo serta penawaran kontrak lima tahun, mungkin Pirlo ketika itu sudah menjadi bagian dari Madrid. Begitu pula dengan Barca-nya Pep Guardiola yang harus mencari pemain lain untuk mengisi transfer Pirlo yang gagal oleh sebab Milan yang teguh untuk tetap mempertahankan gelandangnya tersebut.

Pirlo juga bercerita tentang masa sulitnya ketika belajar sepakbola di Brescia, ia dikucilkan, jarang dioper bola padahal posisinya sudah ideal, bahkan sering dikasari, bukan karena Pirlo bertingkah buruk, namun, karena Pirlo terlalu hebat padahal ia bergabung dan melawan pemain diatas usianya. Pemain-pemain yang usianya diatas Pirlo cemburu dengan apa yang bisa dilakukan oleh Pirlo. Di masa sulitnya itu, Pirlo marah dan hanya punya pilihan: berhenti atau terus bermain. Ia pilih yang kedua. Terus bermain, mengejar bola lalu ia cetak gol sendirian, melakukan hal yang tak bisa dilakukan oleh rekannya.

Yang paling menarik, menurut saya, adalah ketika menceritakan hal-hal takhayul. Cerita tentang rekannya, bukan Pirlo yang mempercayai hal itu. Ada kisah mengenai sepatu tua nan butut milik Gilardino yang harus Gilardino bawa setiap pertandingan, jika lupa tak dibawa, Gila lebih memilih meminta ke pelatih untuk duduk di bangku cadangan, alias menolak untuk bermain. Juga kisah Pipo Inzaghi yang harus selalu buang hajat di ruang ganti pemain, bukan hanya sekali tapi bisa sampai empat kali, sampai rekan-rekannya berkata "memangnya kau makan apa, sih, bangkai?". Juga Pipo yang menyukai makanan bayi dan selalu tidak memakan dua potong biskuit terakhirnya. Atau cerita Sebastiano Rossi yang melarang siapapun untuk berjalan di belakangnya ketika melakukan pemanasan sebelum bertanding.

Juga ada kisah mengenai betapa kecewanya Pirlo ketika kalah oleh Liverpool di Final Champions League. Saking kecewanya, ia sampai terpikirkan untuk berhenti bermain sepakbola. "Sometimes you win, sometimes you learn" untaian kata bijak tersebut tidak berlaku bagi Pirlo, karena hanya kata "berengsek", kata yang muncul ketika Pirlo mencoba mengambil hikmah dari kekalahan itu, walau dua musim selanjutnya Milan beserta Pirlo bisa membalaskan dendam dengan menjuarai Champions League dengan lawan yang sama di partai final.

Ada kritikan juga di bukunya Pirlo. Ia mengutuk aksi para supporter di Italia yang sering bertingkah diluar batas. Jika berlaga di kandang lawan, dari hotel ke stadion, Pirlo sangat tidak nyaman karena selalu dikawal oleh polisi dengan sirine dan lampunya. Jika ada yang ingat aksi jakmania pada tahun 2013 yang melakukan aksi pelemparan ke bus Persib. Pirlo juga pernah merasakan hal yang sama. Namun, tak seperti apa yang dialami Persib, kaca bus yang Pirlo tunggangi cukup kuat untuk menahan lemparan bongkahan batu.

Pirlo juga mengutuk aksi rasis yang sering digunakan oleh para supporter untuk menjatuhkan mental lawannya. Pirlo sangat senang dengan aksi Balotelli ketika melawan rasisme. Balotelli akan menunjuk bibir/kulit ketika mencetak gol atau juga tertawa ketika ada yang berteriak rasis kepadanya. Tindakan itu, menurut Pirlo, akan membuat tindakan orang yang berteriak rasis menjadi sia-sia.

Juga banyak kisah lainnya, seperti Pirlo yang belajar free kick dari mengamati cara Juninho menendang. Juga cerita tentangnya yang tak menyukai pemanasan. Dan lainnya. 

Sebagai pengagum AC Milan dan Pirlo di kala kanak-kanak, buku ini menarik untuk dibaca, sehingga jadi mengetahui kenapa ia menyeberang ke Juve. Tak seperti kisah Eka Ramdani, walaupun sudah kembali ke Persib tapi kisah perpindahannya ke Persisam bagi saya yang awam masih tak jelas sampai sekarang.

Sekian. Tabik!

Kamis, 05 April 2018

Sosok pada diri Firman Utina

Firman Utina, bagi penyuka sepakbola lokal nama tersebut takkan asing, apalagi bagi publik Bandung yaitu para penggemar Persib. Pada musim 2013, setelah Abah Djanur ditunjuk sebagai pelatih, nama Firman Utina masuk kedalam daftar pemain pada musim itu.

Awalnya, saya sedikit pesimis dengan masuknya Bang FU, ada beberapa faktor, seperti usia yang akan berpengaruh kepada kondisi fisik, juga banyaknya tim yang telah beliau bela, malah saya pernah baca di salah satu akun media social, saya lupa nama akunnya, akun tersebut menolak kedatangan Bang FU dengan alibi bahwa Firman Utina takkan bermain dengan hati karena beliau adalah pekerja sepakbola.

Bahwa benar jika kritikkan atau cacian tidak perlu dibalas dengan argumentasi tapi dengan tindakan. Dan Bang FU melakukan itu. Atau mungkin saya yang tidak membaca kabar tentang argumentasi balasan Bang FU terhadap kritikkan, seperti apa yang dilakukan oleh salah satu pemain Persib dengan membuat kaos dengan tulisan "where are you when we lose?".

Setahu saya Bang FU adalah sosok yang bisa mendinginkan kondisi tim jika sedang panas, memanaskan kondisi tim jika sedang dingin, mencairkan suasana dengan candaannya, dan juga sosok yang bisa membuat pemain lain hanya memikirkan bagaimana mereka memberikan permainan terbaik, sisanya Firman Utina yang atur.

Ada satu kisah yang bisa saya bagi mengenai peran Bang FU dalam mendinginkan kondisi tim jika sedang panas. Kondisi tersebut terjadi pada saat itu Vlado tidak ditemani Jupe dalam mengawal pertahanan Persib, kalau tidak salah saat pertandingan AFC Cup di Jalak Harupat, saya ingat betul pada saat itu karena posisi saya di tribun tepat di depan pertahanan Persib, beberapa kali Vlado menunjukan gerak tubuh kecewa kepada tandem center backnya tersebut. Dan puncaknya ketika lawan bisa mencetak gol, adu mulut pun berlangsung ditengah lapangan bahkan ketika pertandingan belum selesai, ketidakharmonisan yang sangat parah saya kira. Setelah pertandingan Firman Utina menghampiri Bobotoh yang sedang berada di Stadion Persib, salah satu Bobotoh ada yang bertanya mengenai insiden tersebut. Dengan kalemnya beliau menjawab “Saya sudah sarankan kepada pelatih untuk melihat tayangan ulang pertandingan tadi, jadi bisa tau apa yang salahnya agar tidak subjektif” hasilnya: Tim tetap kondusif!

Untuk memanaskan kondisi tim jika sedang dingin atau agar tetap panas, saya kira banyak contohnya yang mungkin bisa dilihat dibeberapa tayangan ulang, seperti teriakkan-teriakkan ketika Persib kebobolan atau gerakkan tangan yang menunjukkan untuk tetap berkonsentrasi ketika sudah mencetak gol.

Apalagi kisah tentang bagaimana Bang FU mencairkan suasana. Adakah yang pernah melihat pemain Persib yang sekarang melakukan foto selfie yang dilakukan oleh satu tim? Coba lihat apa yang dilakukan oleh seluruh tim pada latihan perdana untuk menghadapi turnamen Piala Presiden yang pertama. Nginget-ngingetna ge resep, komo deui mun ayeuna jiga kitu.

Apalagi jika mengingat ketika Persib berhasil memenangkan pertandingan semifinal LSI 2014 melawan Arema, euphoria pemain sangat tinggi, bahkan sampai menangis haru, seakan Persib sudah juara, padahal baru memenangkan semifinal, bukan final! Firman Utina (kapten sesungguhnya pada masa saat tertinggal 2 gol pun bisa membalikkan keadaan, bukan seperti sekarang, sudah unggul malah jadi kalah) menyadari bahwa hal tersebut terlalu berlebihan karena euphoria yang sedang tim Persib alami tersebut sama dengan apa yang dirasakan ketika Sang Kapten membela Timnas dan mantan timnya masuk final yang berakhir dengan Runner Up. Sebagai pemain senior, dengan kebijaksanaanya, beliau menyarankan kepada pelatih dan manager untuk bisa sedikit meredam euphoria tersebut dan hasilnya: JUARA!

Mungkin banyak kisah lainnya yang lebih heroik dan mungkin juga kisah yang saya ceritakan terlalu hiperbola. Namun miris rasanya jika mendengar cerita salah satu rekan wartawan yang mewawancarai tentang aksi pemasangan spanduk "Soler Out"di saat latihan Persib di Arcamanik kemarin. Rekan wartawan tersebut bercerita kepada saya bahwa Arkan yang memasang spanduk tersebut malah mendapat acungan jempol dari salah satu pemain dan beberapa official tim serta senyuman dari pemain lainnya. Saat ini, saya kira ada yang salah dalam keharmonisan di tim Persib.

Dan keharmonisan tim itu sangat penting. Seperti apa yang Ahmad Jufriyanto katakan ketika ditanya mengenai Kas Hartadi atau Djajang Nurjaman dalam wawancaranya bersama Footballtribe. Jupe malah menjawab "Ini yang selalu saya percaya. Untuk bisa jadi juara terkadang bukan soal kemampuan pelatih dalam urusan taktikal saja. Ada hal yang lebih esensial lagi. Salah satunya adalah bagaimana bisa merangkul pemain untuk menjadi satu kesatuan. Jadi nantinya mereka bisa mengeluarkan yang terbaik di lapangan. Dan menurut saya, baik Pak Kas (Hartadi) ataupun Pak Djanur punya kemampuan itu. Mereka bagus dalam pendekatan personal kepada pemain. Mereka bisa merangkul seluruh tim. Secara pribadi dua-duanya pelatih hebat buat saya."

Dengan alasan-alasan tersebut, saya kira Persib sekarang memang butuh SOSOK!

--------------------------------------------

Juga dimuat di Web VikingPersib Club dan Halik Ku Aing Zine

Senin, 02 April 2018

Ilmu dan Biasnya Gelar

Akhir Maret, lupa tepatnya, setelah sekian lama, orang tua kembali menanyakan kuliah yang tak mau saya selesaikan. Tak ada kata yang saya keluarkan untuk jawaban dari pertanyaan tersebut. Anjuran dari orang tua pun sebenarnya tak memberatkan, hanya meminta jika tak ingin segera diselesaikan, minta cuti saja, dikit lagi, sayang kalau sampai DO.

Seharusnya, waktu normal 4 tahun untuk menyelesaikan kuliah sangat bisa untuk saya lalui. Dulu, saya mempunyai keyakinan bahwa kuliah tidak hanya untuk memahami banyaknya teori apalagi rumus-rumus yang setelah ujian takkan teringat lagi. Tapi, membentuk cara berpikirlah yang menurut saya lebih penting ketika itu.

Apa yang harus saya banggakan ketika mendapatkan gelar lalu tak banyak ilmu yang saya mengerti?

Saya kira, mengerti atau paham berbeda dengan tahu yang sering dipraktekkan oleh para penghafal dengan konsep SKSnya yaitu Sistem Kebut Semalam. Hari Senin belajar teori piramidnya Abraham Maslow, di hari itu pula menjadi tahu bahwa kebutuhan akan makanan akan lebih utama dibanding kebutuhan akan rasa aman, lalu kembali lupa setelah keluar kelas, berminggu-minggu terlewati dengan mendapatkan ilmu baru, lalu beberapa hari sebelum ujian mendapat kisi-kisi bahwa teori Abraham Maslow akan muncul di salah satu soal ujian, karena kebutuhan akan nilai, teori Abraham Maslow kembali dicari dengan menggunakan konsep SKS, ujian berhasil dilewati dengan menjawab soal teori piramida Abraham Maslow dengan baik, setelah itu lupa lagi. Terus begitu sampai saya merasa tertipu oleh nilai dengan tujuan utama dari belajar yang terlupakan.

Saya bukan seorang yang sangat pandai, bukan orang yang seketika akan paham dengan apa yang dijelaskan oleh guru atau dosen, bukan pula orang yang akan langsung selalu mengerti dengan apa yang dibaca.

Kejemuanpun muncul, ada fase di mana saya tak membawa apa-apa selain bolpoin dan tambahan rasa ngantuk jika waktu baru pukul 7 pagi dan saya harus sudah ada di kelas. Fungsi utama bolpoin yang saya bawa adalah untuk menandatangani absen. Jika ada keharusan untuk menulis, satu lembar kertas milik kawan di sebelah saya akan selalu saya minta dengan balasan ucapan terima kasih. Tak jarang juga kertas yang harusnya saya gunakan untuk menulis pelajaran malah digunakan untuk menggambarkan best XI pemain bola menurut saya, best XI pemain asing, best XI pemain impian yang diinginkan untuk bermain di Persib serta best XI-best XI lainnya. Nanaonan coba.

Kejemuan mencapai puncak ketika harus mempelajari trading saham yang tidak saya alami sehingga benar-benar sangat sulit untuk saya pahami, entah karena sudah sangat jemu sehingga sulit memahami. Sampai ketika ada tugas kelompokpun saya memilih untuk bergabung dengan kelompok yang di dalamnya ada seorang kawan baik dengan IPK tertinggi diangkatan saya, dengan harapan tak perlu ikut mengerjakan tugas. Bahkan kebanyakan bab di laporan kuliah praktek kerja pun kawan baik saya tersebut yang mengerjakannya. Jika saja teman baik saya tersebut tidak membantu, bisa jadi laporan kuliah praktet kerja itu takkan pernah selesai.

Selain alasan di atas, buku-buku serta artikel atau esai yang saya baca cukup mempengaruhi cara memandang sekolah. Walaupun Steve Jobs berkata bahwa jangan menganggap enteng sekolah karena sangat banyak orang sukses dengan diiringi gelar yang baik. Tapi opini tersebut dikatakan oleh yang tak menyelesaikan kuliahnya. Apalagi ketika membaca kabar banyaknya pejabat yang mempunyai ijazah palsu serta pengalaman pribadi yang memperlihatkan dengan sangat mudah mendapatkan ijazah palsu.

Belum lama, mungkin hanya beberapa minggu kebelakang, seorang kawan mengutip kutipan dari Ben Anderson (seorang Indonesianis asal Irlandia, yang juga peneliti di Cornell University) yang memaparkan bahwa "fungsi utama gelar akademik akhir-akhir ini hanya sekedar menjadi jalur migrasi sosial-ekonomi ke dalam tingkatan yang lebih tinggi dan mapan. Sedangkan pemaknaan pendidikan tinggi sebagai “pendidik” yang mencetak intelektual dalam pengertian ketat untuk kemajuan ilmu pengetahuan semakin ditinggalkan." 

Fenomena ijazah sebagai salah satu syarat untuk bekerja sehingga ijazah palsu menjadi marak. Juga, fenomena yang sangat amat saya tak inginkan adalah gelar sebagai gengsi, semoga tetap dijauhkan dari rasa bangga oleh berderetnya gelar diantara nama dengan tidak diiringi ilmu pada gelar tersebut. Dengan dua fenomena tersebut, maka kutipan Ben Anderson menjadi sangat masuk akal.

Sedikit pembelaan agar elektabilitas tetap tinggi. Sejauh saya mengingat, saya tak punya rekam yang begitu jelek ketika menempuh kehidupan di dunia persekolahan. Sering mengalami fase senangnya mendapatkan peringkat dua ketika SD dan juga SMP, lalu di salah satu semester pada saat awal kuliah hanya mendapkan satu nilai B dan sisanya A. Bahkan dalam hal absensi, saya adalah orang yang sangat jarang absen, kecuali ketika tingginya hasrat dalam menonton sepakbola. Seperti tak ikut ujian praktek ketika SMP atau seminggu tak kuliah karena Kutai dan Surabaya memanggil.

Sebagai penganut untaian kata "I have many stories, but i guess some better left untold". Jadi, demikianlah alasan-alasan yang bisa saya utarakan. Sebagai manusia biasa, rasa bimbang kerap menghampiri, apalagi jika mencoba memahami perasaan orang tua yang ingin anaknya mempunyai gelar serta biaya yang telah banyak dikeluarkan.

Maaf.

Kamis, 22 Maret 2018

Andai Saja

Selasa, 21 Maret 2018. Sebuah lagu dari John Denver yang Berjudul Take Me Home Country Roads menemani saya dalam membaca sebuah kabar Saudara Prabowo berpidato tentang prediksi Indonesia akan bubar pada tahun 2030. Penasaran adalah reaksi pertama saya ketika membaca judul kabar tersebut. Bingung reaksi setelahnya. Apakah benar prediksi tersebut? Data-datanya kuat?

Pikiran melayang, lagu berganti, kini, The Times They Are a Changin' ciptaan Bob Dylan yang seketika membawa saya melintasi waktu sebelum tahun 2030 dan setelahnya.

Pada periode sebelum tahun 2030 tak banyak perubahan yang terjadi. Selain sedikit, lambat pula progressnya. Tak perlulah anda mendebat bahwa pembangunan pada tahun 2018 sangat banyak, di sana sini. Sedikit karena efek pembangunan tersebut tak semua orang bisa menikmatinya, lambat karena dalam kurun waktu 12 tahun bukanlah waktu yang singkat. Namun, ada yang patut dibanggakan sebagai orang Bandung yang menasbihkan dirinya sebagai Bobotoh, yaitu: PERSIB menjadi Raja Sepakbola Republik Indonesia!

PERSIB! ya, PERSIB, kesebelasan yang didirikan pada tahun 1933 itu telah meraih 7 gelar liga domestik sebelum tahun 2018. Hanya 7 gelar selama 85 tahun.

Tapi, tepat pada tahun 2030, PERSIB berhasil meraih gelar ke 15nya! Terbanyak se Indonesia. Sebelum akhirnya pada tahun tersebut Indonesia bubar, sesuai dengan pidato prediksi Tuan Prabowo.

8 gelar liga domestik di Republik Indonesia dalam kurun waktu 12 tahun adalah sebuah catatan fenomenal.

2018
Dimulai pada musim 2018 dengan memempati posisi kelima. Sebuah titik awal dari kejayaan PERSIB untuk 12 tahun kedepan. Mario Gomez sebagai aktor di balik kejayaan tersebut. Walaupun terlalu banyak intrik pada tahun tersebut, berikut kedalaman skuadnya sangat uyuhan. Maka posisi lima dari 18 tim adalah posisi yang cukup baik menurut jajaran manajemen. Namun, tak sedikit pula Bobotoh yang menuntut untuk mengganti pelatih kepala. Manajemen bergeming, beliau-beliau menuturkan bahwa semuanya butuh proses, Mario masih on the track.


2019
Dilalui dengan banyak penyegaran. Mario Gomez telah hafal betul segala aspek sepakbola Indonesia. Penyegaran di sana sini. Ferdinand Sinaga balik Bandung, berduet bersama Febri Haryadi di sisi kanan dan kiri lapangan, menjadi momok pertahanan tim lawan. Kapten Dedi Kusnandar menjadi jendral lini tengah. Kalem namun garangnya Bojan Malisic di pertahanan. Serta kokohnya Deden Natsir menjadi cerita membanggakan walaupun hanya menempati peringkat tiga.


2020
Sejarah fenomenal dimulai. Mario Gomez mendapatkan kontrak baru dengan durasi 3 tahun yang mendapat banyak kritik Bobotoh. Manajemen tetap bergeming. Tak banyak perubahan, selain Abdul Aziz dan Agil Munawar pulang ke tempat di mana ia belajar sepakbola. Juga, Beckham Putra Nugraha adik kandung Gian Zola yang promosi ke tim senior. Beckham menambah sangar lini depan PERSIB, trio Bow, Sinaga dan Beckham sangat cair dalam hal menyerang. Ditopang oleh trio lini tengah Dado, Aziz dan Zola. Ditambah, semakin kokohnya duet Mali dan Victor walaupun semakin tua. Serta, gawir yang selalu aman dari serangan berkat tangkasnya Henhen di kanan dan Agil Munawar di kiri. Dan, Deden menjadi penjaga gawang no. 1 di Indonesia! Langganan timnas, mengalahkan Andritany, dan Satria Tama. Peringkat Pertama di Liga 1 adalah ganjarannya!


2021
Musim 2021 semakin tak tertandingi. Pensiunnya Victor tak menjadi kendala, karena penggantinya tak kalah tangguh! Arohman, bek muda binaan Diklat PERSIB yang belum genap 21 tahun menjadi tembok kokoh bersama Mali. Treble Winner! Piala Indof**d, Liga 1 serta Piala Presiden berhasil diboyong ke tanah Pasundan. Sekedar Informasi, Piala Indof**d adalah pra musim yang diselenggarakan oleh Indof**d yang mempertemukan tim-tim raksasa Indonesia, Malaysia dan Singapura. Tentunya, tim-tim tersebut adalah yang disponsori oleh indof**d, jiga Emirates Cup, ngan ieu mah bergengsi, pemain utama hungkul nu dimaenkeunna ge. Piala Presiden yang awalnya adalah pra musim, pada tahun 2021 menjadi Piala Liga, setelah wacana akan digulirkannya Piala Indonesia sejak tahun 2018 terus menjadi wacana.


2022
Pra musim pada tahun ini tidak main-main, Training Center dilakukan di kota Milan, tempat latihan Inter Milan. Beruji tanding melawan tim-tim primavera dan diakhiri menantang tim utama Inter Milan. Hal tersebut bertujuan untuk meraih hasil lebih baik di Liga Champions Asia, targetnya adalah juara grup, setelah musim sebelumnya tak dapat berbuat banyak. Namun, manusia hanya bisa berencana, Tuhan yang menentukan. Piala Indof**d lepas karena hanya menurunkan PERSIB U-19. Liga Champions hampir lolos grup setelah kalah selisih gol dari Buriram United peringkat kedua Grup C. Liga 1 dan Piala Presiden tetap dalam genggaman. 5 pertandingan sebelum liga 1 berakhir, Mario Gomez menandatangai satu musim tambahan untuk menukangi PERSIB, setelah itu ia memutuskan untuk pensiun, lalu menikmati hari tua nya sebagai pelatih asing tersukses di Indonesia dan menjadi legenda PERSIB!


2023
"Dont change winning team". Quote tersebut nampaknya sangat diyakini oleh Mario. Tak ada perubahan, kecuali masuknya Firman Utina kedalam jajaran pelatih. Ketika itu, karir kepelatihan Bang FU sedang naik daun. Setelah team talk selepas babak pertama di Final Liga 1 U-19 menjadi buah bibir. Manajer Bhayangkara U-19, dalam sebuah wawancara di TV Nasional menyatakan bahwa team talk Bang FU sebagai headcoach Bhayangkara U-19 sangat memotivasi anak didiknya. Tertinggal 3 gol dibabak pertama, bisa dibalikkan menjadi 4-3 sebelum babak kedua selesai. Ketika itu, PERSIB memang sedang membutuhkan seorang motivator handal yang bisa mendinginkan kondisi tim jika sedang panas, memanaskan kondisi tim jika sedang dingin serta mencairkan suasana dengan candaannya. Walaupun pada musim tersebut Piala Presiden lepas. Prestasi di Liga Champions Asia sangat membanggakan. Semifinalis! Kalah oleh Guangzhou, dengan selisih satu gol. Mengulang sejarah pada tahun 1995. Tentunya, Liga 1 tetap dalam genggaman. Roberto Carlos Mario Gomez pensiun dengan menyamai rekor Sir Indra Tohir yang mengantarkan PERSIB ke semifinal Liga Champions Asia.


2024
Firman Utina menjadi suksesor Mario. Yang sebelumnya sudah menjadi rahasia umum bahwa Bang FU sudah dipersiapkan untuk menjadi Pelatih Kepala sejak musim lalu. Ferdinand yang kerap absen, membuat Bang FU dan jajaran manajemen membuat sebuah gebrakan. Merekrut top scorer Liga Champions Asia 2023 asal Thailand, leutik, lincah jeung liat! Setelah sebelumnya warga Babakan Instagram dihebohkan akan kabar bergabungnya Kylian Mbappe ke PERSIB, yang ketika itu menjadi pemain terbaik dunia. "Komentarna, Bobotoh?" "Angkut, Lurd?" "Yes or no?".
Puncak Liga 1 tetap setia, Piala Presiden Balik Bandung, serta tiga piala pra musim berhasil direngkuh, salah satunya community shield yang mempertemukan juara Liga dan juara Piala Presiden, yang untuk pertama kalinya dihelat. Namun, prestasi di Liga champions Asia kurang bergairah, hanya menempati posisi 2 di Grup B.


2025
Pra musim dihebohkan dengan ditariknya Bang FU menjadi pelatih TimNas Indonesia. Bukan PERSIB jika tidak melakukan gebrakan. Pelatih yang mengantarkan juara Liga Champions Eropa pada musim 2022-2023 resmi dikontrak, tepat di hari ulang Tahun PERSIB ke 92. Asa melambung tinggi. Harapan Bobotoh akan trophy Liga Champions Asia bisa didaratkan ke Bandung sangat besar. Untuk tidak memberatkan pundak para pemainnya. Sebelum liga di mulai, Sang Pelatih mendinginkan suasana dengan mengungkapkan bahwa semuanya butuh proses, ia sedang mendalami timnya terlebih dahulu dengan Liga 1 tetap menjadi prioritasnya. Lalu, di tahun kedua atau ketiga Trophy Liga Champions Asia adalah keharusan. Janji Sang Pelatih terbukti. Liga 1 tetap menjadi milik warga Bandung. Runner up Piala Presiden serta peringkat pertama grup A Liga Champions Asia, walau harus kalah dibabak selanjutnya adalah hal yang cukup untuk menjadi perkenalan Sang Pelatih kepada sepakbola Indonesia, khususnya Bandung.


2026
PERSIB kembali membuat gebrakan, kini dengan pra musimnya. Untuk meresmikan stadion baru milik sendiri, PERSIB mengundang juara Liga Champions di setiap benuanya untuk melakoni turnamen pra musim, dengan sistem setengah kompetisi PERSIB menempati peringkat kedua, kalah satu point dari Juara Liga Champions Eropa.
Janji Sang Pelatih pada awal kedatangannya benar-benar ia tepati. Sejarah tercipta! Bandung berpesta, jalanan benar-benar tak bergerak, pada hari itu. Kakek-nenek, ibu-bapak, remaja, anak-anak hingga bayi turun kejalan untuk merayakan sebuah sejarah, Bandung menjadi pioneer, untuk pertama kalinya Trophy Liga Champions Asia mendarat di tanah Asia Tenggara, Bow menjadi Best Player dan Top Scorer Liga Champions Asia tahun 2023 mengulangi pencapaiannya. Dengan Trophy Liga 1 tetap hadir di Bandung. What a beautifull night!


2027
Jumawa dan terlena. Dua kata tersebut nampaknya sangat pas untuk keadaan tim PERSIB pada musim 2027. Jumawa setelah mencatat sejarah menjadi juara Liga Champions Asia juga menjadi juara Liga 1 sebanyak 7 kali berturut-turut. 7 gelar dalam 7 musim. Fenomenal! Namun, kefenomenalan tersebut yang membuat terlena. PERSIB lupa akan regenerasi. Dado, Deden dan lainnya sudah menua. Kaki Bow pun sudah tak secepat dulu. Juara bertahan Liga Champions Asia itu pun hanya mampu melewati quarter final. Begitupun, di Liga 1 yang hanya menjadi runner up. Spanduk besar bertuliskan "REGENERASI HARGA MATI" membentang di tribun timur pada pertandingan terakhir Liga 1 di Bandung.


2028
Setelah mengadakan pertemuan bersama jajaran pelatih. Manajemen mengumumkan mempertahankan seluruh jajaran pelatih hingga tiga tahun kedepan dengan target dua tahun regenerasi dan di tahun ketiga kembali menjadi juara. Seperti apa yang terjadi pada musim 2018, yang memetik hasil di 2020. Tak banyak kritik dari Bobotoh, Karena tuntutan regenerasinya benar-benar dituruti manajemen bersama pelatih. Musim 2028 kebanyakan berisi pemain Diklat PERSIB serta beberapa pemain kunci yang masih produktif. Dan, juga, PERSIB berhasil mengkontrak gelandang flamboyan asal Tulehu, yang konon akan lebih hebat dari Dado, Aziz ataupun Zola. Musimpun berakhir dengan menempati posisi empat.


2029
Dado Pensiun, begitu pula Deden yang harus benar-benar merelakan posisinya kepada Aqil Saviq yang telah sangat lama menanti posisi inti. Dado dan Deden langsung masuk jajaran pelatih. Tak banyak perubahan pada pemain, selain menambal posisi yang ditinggalkan Dado dan Deden. Musim 2029 sesuai dengan rencana, posisi naik menjadi runner up serta bonus trophy Piala Presiden kembali ke tanah Pasundan.


2030
Harapan juara kembali hadir. Target juara yang selalu digaungkan publik Bandung setiap musim kembali dicanangkan pada musim itu. Beckham yang sedang matang-matangnya menjadi tumpuan. Trophy liga 1 kembali hadir, publik Bandung kembali berpesta! Beckham bak Dewa, dielu-elukan di mana-mana.


2030-.....
Sungguh, itu adalah malam yang sangat indah untuk dikenang, PERSIB menasbihkan diri menjadi Raja Sepakbola Indonesia dengan 15 gelar liga domestiknya, terbanyak se NKRI.


Lalu, beberapa minggu kemudian kabar prediksi dalam pidato Saudara yang dipertuan agung Prabowo pada tahun 2018 benar-benar terjadi.

Jawa Barat jadi Negara, Republik Rakyat Pasundan!

Bandung Ibukota Negara

Pangalengan menjadi Provinsi, Taufiq Rizky Kawitan menjadi Gubernurnya. Magma dinasionalisasi. Penghasil kopi & teh no 1 di negara RRP. Situ Cileunca tujuan utama wisata!

Rakyat sangat makmur, dengan setiap daerahnya memiliki satu produk unggulan. Baik makanan, minuman, pakaian, aksesoris, bahkan obat-obatan tradisional yang lebih mahsyur dari obat modern, juga alat elektronik dan masih banyak lainnya.

Pangalengan memiliki tim sepakbola bernama PSPP (Persatuan Sepakbola Putra Pangalengan) yang melegenda, Asep Dayat sebagai pelatih pada masa awal. Dan PERSIB menjadi Tim Nasional RRP.

Badminton juga menjadi salah satu dari banyaknya cabang olahraga andalan Provinsi Pangalengan. Dengan Taufiq Hidayat, Sang putra daerah yang menjadi direktur pembinaan.

Dan, Malabar sebagai tempat terakhir bersemahyamnya Karel Albert Rudolf Boscha menjadi pusat penelitian di Provinsi Pangalengan. Dengan penemuan-penemuannya yang menggemparkan dunia.

***

Tak terasa, waktu di gawai yang digunakan untuk menulis rangkuman perjalanan saya dalam melintasi waktu telah menunjukan pukul 03.59 WIB. Terima kasih bagi yang sudah mau-maunya membaca sampai selesai. Semoga tidak dibaca dengan serius, karena saya menulisnya pun dengan keadaan sangat ngantuk. Sampai jumpa di dunia nyata! Danke! Liebe dich sehr!

Setelah lebih dari 12 jam ditunda untuk diposting. Banyak pertimbangan, termasuk absurdnya tulisan ini. Kurang menyukai politik, termasuk beberapa orang di dalamnya. Bahkan, sejauh saya mengingat, terakhir ke TPS pun ketika SD. Sekedar untuk teriak "Hidup Golkar" ketika nama partai golkar yang keluar dalam perhitungan suara. "Hidup PKS" atau "Hidup PDI" adalah balasan teriakkan kawan dipinggir saya. Tak ada maksud lain, selain membuat ruangan tempat dihitungnya suara menjadi ramai. Setelah beranjak remaja sampai tulisan ini diposting, tak pernah terbesit sedikitpun untuk kembali menginjakkan kaki ke tempat tersebut. Kelak, semoga ada kemampuan untuk menulis alasan untuk tidak memenuhi hak. Atau ada pemimpin yang meyakinkan dirinya untuk dipilih. Semoga.

Layaknya Roda, Berputar!

Sepakbola adalah sebuah alat perjuangan, persatuannya menjadi kunci. Ir. Soeratin paham betul. Dan, Bandung pun tahu akan itu, Anwar St. Pamoentjak yang menjadi pelopor klub kebanggaan asal Bandung menurut sejarah yang saya baca. Setelah sumpah pemuda digaungkan, penggunaan Bahasa Indonesia menjadi salah satu alat perjuangan. Tidak terkecuali pada sepakbola. Akronim "Persatuan Sepakbola" menjadi sangat banyak dipakai hingga kini, yang dulunya menggantikan singkatan "Voetball Bond".

14 Maret 1933, adalah tanggal keramat bagi sebuah klub asal Bandung. Walaupun tanggal tersebut masih bisa berubah jika kelak ditemukan referensi baru. 

Beragam gelar telah menjadikannya sebagai salah satu klub besar di Indonesia. Dengan suporternya yang telah tumbuh dengan rentang waktu yang sangat panjang, hingga kini telah menjadi seperti sebuah budaya.

Pasang surut prestasi adalah sebuah kewajaran jika kita medengar sebuah wise quote yaitu "hirup mah jiga roda, muter". Dari tahun 1937 ke tahun 1961 adalah bukan waktu yang sebentar. Begitu pula dari 1961 ke 1986. Dan tentunya dari tahun 1995 sampai 2014 yang saya alami sendiri.

Sangat beruntung saya bisa mengalami apa yang diceritakan oleh para pendahulu saya yang sering menceritakan tentang kehebatan di rentang 1983-1995. Hal tersebut sering beliau-beliau ceritakan apalagi ketika setelah pertandingan yang kurang memukau  di tahun 2000 sampai sebelum tahun 2014.

Ajat yang fenomenal, Adeng Hudaya kapten terlama, Robby Darwis tinggi besar, Yusuf Bahtiar sang maestro, Yudi Guntara dipuji Fabio Capello, Sutiono yang subur, garangnya Samai Setiadi, Dede Iskandar dan Nandang Kurnaedi si jago gawir sampai jalanan Bandung-Jakarta menjadi lautan biru oleh sebab ratusan ribu orang ingin menjadi saksi sejarah. Tak ada sanggahan. Hanya harapan untuk ingin merasakan hal yang sama.

Waktu terus berjalan, roda akhirnya kembali mencapai bagian atas. Sejarah terulang, 19 tahun yang kelam akhirnya bisa dipatahkan. Di mulai pada tahun 2013 dengan Sergio van Dijk yang memukau. Lalu, 2014 sebuah cerita indah yang ditunggu selama 19 tahun. Dan, 2015 sejarah penuhnya Gelora Bung Karno oleh lautan biru kembali terulang. Jika pada tahun 1986 menjadi pematah masa kelam sebagai pemain dengan gol tunggalnya di partai final. Di tahun 2014 Ia menjadi pematah masa kelam sebagai pelatih, ialah Djajang Nurjaman, nama yang akan abadi dalam catatan indah perjalanan klub kebanggaan asal Bandung.

Kemudian, sangat jemu untuk mengemukakan apa yang terjadi setelah tahun 2015. A short glorious era. Terlalu singkat setelah 19 tahun menunggu. Drama dan drama yang malah terjadi. Raja kompetisi yang diinginkan, bukan ratu drama. 

Jika roda mencapai bagian bawah terlalu cepat, semoga kayuhan untuk kembali berada di bagian atas semakin kencang. Jika menjadi bagian dari memperlambatnya kayuhan untuk mencapai puncak, kenapa harus tidak legowo untuk mempercayakannya kepada yang lebih cepat mengayuh. Bukankah yang terpenting adalah berada di atas bukan siapa yang menjadikannya kembali berada di atas? 

85 tahun kini usianya. Semoga kembali menjadi alat perjuangan, dan tentunya dalam konteks yang berbeda. Yaitu sebagai alat perjuangan untuk lepas sejenak dari rutinitas kehidupan yang menjemukan, bukan malah menambah kerungsingan.

Dengan nama Persib Bandung dan warna Biru yang tak lekang oleh waktu. Kami Bangga!

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Dengan sedikit revisi, esai ini dimuat juga di Web VikingPersibClub dan Akar Rumput Zine Vol. #4




Selasa, 27 Februari 2018

A Note From Yoedi Baduy: Supporter Adalah Subjek Bukan Objek

Kala itu, jauh sebelum Twitter dan Instagram hadir mengisi (dan membuat gaduh) keseharian manusia di berbagai belahan dunia, saya membaca sebuah esai ciamik mengenai peran supporter yang diposting di laman Facebook milik Dirigen Viking Persib Club, Yana Bool. Esai yang ditulis oleh Yoedi Baduy tersebut berisi tentang kekhawatiran beliau akan fungsi supporter sepakbola yang (nyaris akan) melewati batas.
Selang sepuluh tahun kemudian, yakni, 17 Februari 2018, usai final Piala Presiden ada pengumuman penghargaan absurd perihal terpilihnya Bobotoh sebagai supporter terbaik yang membuat gaduh dan juga menuai pro kontra di kalangan internal Bobotoh sendiri. Seketika itu pula saya teringat akan esai yang pernah saya baca pada laman facebook tersebut. Yang terpikirkan pertama kali mungkin tidak ada kaitannya dengan fungsi supporter yang melewati batas, akan tetapi banyaknya kawan Bobotoh lain yang silang pendapat mengenai hal ini. Adalah faktor apa yang bisa membuat penghargaan absurd tersebut disematkan pada Bobotoh. Lagipula Persib hanya bertanding tiga kali, sedang tim lain yang mencapai babak final bermain sebanyak 7 kali, pun dua dari tiga pertandingan tersebut diwarnai aksi pelemparan botol oleh Bobotoh. Itulah yang membuat saya (mungkin juga kawan lain) ingin mempertanyakan penghargaan absurd tersebut. Bahkan sempat muncul prasangka buruk (dalam pikiran) bahwa penghargaan tersebut hanya sebuah lelucon untuk menertawakan perilaku negatif yang dilakukan Bobotoh.
Kebetulan, beberapa hari kemudian, akun instagram @cyber.viking memposting foto yang isi captionnya adalah esai tersebut.
  Dengan tidak sedikitpun menambah apalagi mengurangi, beginilah isi dari esai tersebut. (Semoga kita semua bisa menelaah esai brilian yang keluar dari pikiran Om Baduy ini dengan nalar yang baik)

***

Kejadian yang aneh-aneh memang sering terjadi di negara kita !!! bahkan imbasnya sampai ke dunia persepakbolaan kita.
Sepanjang pengetahuan saya mengenai sepak bola, ....... tidak ada yang namanya Supporter terbaik. Karena dalam dunia sepakbola, Supporter hanya merupakan Subjek,... bukan Objek. Jadi dalam hal ini, team sepakbolalah yang menjadi "Artisnya".
Tapi di negara kita, ..... beberapa Kelompok Supporter malah berlomba-lomba untuk menjadi "Artisnya", mereka malah berusaha memberikan hiburan melebihi Team Sepak bolanya, bahkan dalam hal "Popularitas". Kelompok Supporter yang seperti ini, bahkan melupakan "Hakekatnya", sebagai pendukung dan penonton sepakbola. Mereka secara emosional malah lupa untuk membangkitkan semangat Timnya, karena sibuk mengutamakan misinya. Mereka lupa untuk menikmati "Indahnya" permainan sepakbola, Mereka lupa, Apa yang sebenarnya mereka perjuangkan, Bahkan, .... mereka lupa, untuk tujuan apa mereka datang ke Stadion, karena mereka terlalu sibuk menampilkan nyanyian dan tariannya, padahal pertandingan sepakbola di tengah lapangan sedang berlangsung.
Setahu saya, ..... di negara yang sepakbola sudah sangat maju dan memasyarakat, "Nyanyian" hanya di tujukan untuk memompa semangat juang para Pemain team kesayangannya. Supporter di Negara Eropa dan Amerika Latin khususnya, tidak pernah melakukan "Tarian-tarian" anehnya selama pertandingan berlangsung. Mereka hanya melakukan Konfigurasi tangan dengan tepukan-tepukan kompak, dan mengangkat tangannya sebagai sinyal kepada para pemain untuk terus berjuang selama di lapangan, dan itupun dilakukan hanya sekali-sekali, disesuaikan dengan situasi dan kondisi pertandingan.
Adakalanya kita harus bernyanyi, ... adakalanya kita harus menari, yang jelas jangan sampai dilakukan sepanjang pertandingan yang tengah berlangsung.
Diluar semua itu, ..... apa perlu adanya pemilihan Kelompok Supporter terbaik? apa tujuannya? dan yang paling membingungkan, ..... APA KRITERIANYA ????
Dari dulu, VIKING selalu mempertanyakan hal tersebut kepada pihak PSSI. Bukankah kita datang ke STADION untuk mendukung dan mencurahkan TOTALITAS dan KECINTAAN kita kepada TEAM KESAYANGAN kita ? dan bukan untuk MENJADI yang TERBAIK serta mencari POPULARITAS. Kalau begini terus kondisi Supporter di Indonesia, ........ bisa jadi POPULARITAS Tim Sepakbolanya, akan terlindas oleh POPULARITAS Supporternya. Sungguh kasihan Team Sepakbola yang harus mengalami hal demikian, ....... amit-amit !!!
Selaku Supporter sejati, tampilah apa adanya, spontan dan berlandaskan rasa cinta terhadap Tim yang dibelanya. Peran Supporter adalah berusaha menjadi PEMAIN KE-12. Dan kepada rekan-rekan sekalian, Tetaplah seperti itu!! jaga rasa 'Cinta" terhadap PERSIB, curahkan seluruh totalitas kalian hanya untuk PERSIB, ketika memberi dukungan !!! dengan cara itu, IKATAN BATHIN antara SUPPORTER dan TEAM SEPAKBOLANYA pasti akan tercipta, dan itu sangat efektif dalam mendongkrak MOTIVASI para PEMAIN.
Ketika Team kita MENANG, ..... kita pantas BERSORAK, ...... dan ketika Team kita KALAH, ...... kita pantas MENANGIS. Ketika Team kita BERJAYA, ...... kita Pantas MEMUJANYA, ........ dan ketika team kita TERPURUK, ..... Kita HARUS MENEMANINYA !!! itulah salah satu bentuk CINTA YANG TULUS, sesuatu yang tak dapat dibeli oleh apapun dan merupakan ANUGRAH dari TUHAN YME!!
Saya akan bertanya apakah KITA pantas menjadi yang TERBAIK ??, sedangkan Team yang kita Bela tidak meraih penghargaan apapun.

                                                                                                                        Jabat Erat

VIKING PERSIB CLUB
-- YOEDI BADUY —




-----------------------------------------------------------------------------------------------------------

Dimuat juga di Akar Rumput Zine Vol. #4

Minggu, 04 Februari 2018

Jemu


Terkadang, menghidupi gengsi yang tak berkesudahan sangat melelahkan.

Lalu, kesejukan tercipta untuk menjadi pelarian para manusia yang tak terhidarkan dari hiruk pikuk rutinitas yang menjemukan.

Banyak tempat, termasuk di sini, yang bisa menyadarkan bahwa waktu terus berlalu.

Waktu tak pernah kembali, melebur bersama deru embun serta kata-kata yang belum sempat tercipta.

Teringat jejak hawa yang sudah lama berjalan jauh ke tempat yang tak diinginkan.

Embun terus turun, matahari kian tak terlihat. Waktu berlaripun telah selesai.

Waktunya kembali kepanggung yang menjemukan.